Kamis, 21 Juni 2012 0 komentar

Pentingkah Kampanye Kondom untuk Remaja ?


Tulisan ini menanggapi gebrakan menkes baru Nafsiah Mboi yang akan mempermudah akses remaja mendapatkan kondom. "Kita berharap bisa meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan reproduksi untuk remaja. Dalam Undang-Undang, yang belum menikah tidak boleh diberi kontrasepsi. Namun kami menganlisis data dan itu ternyata berbahaya jika tidak melihat kenyataan. Sebanyak 2,3 juta remaja melakukan aborsi setiap tahunnya menurut data dari BKKBN," kata Menkes. (VIVAnews.co.id,2012/06/28)

Fakta remaja saat ini
 Di Indonesia, remaja yang mengalami kehamilan dan persalinan sebelum menikah terus meningkat. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief mengatakan, jumlah remaja Indonesia terbilang sangat besar mencapai 63,4 juta  jiwa atau sekitar 26,7 persen dari penduduk Indonesia. beliau juga mengatakan 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pranikah. Beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah juga dilakukan beberapa remaja. Misalnya saja di Surabaya tercatat 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan. (vivanews, 30 Mei 2012)
Sedangkan Riset yang dilakukan KPAI di 12 kota di Indonesia tahun ini,menunjukkan bahwa  "76 Persen responden perempuan mengaku pernah pacaran dan mengaku 6,3 persen pernah ML. Sementara responden laki-laki 72 persen mengaku pernah pacaran dan sebanyak 10 persen pernah melakukan ML," Survei tersebut melibatkan 2.800 responden pelajar laki-laki dan perempuan.(detik.com 2011/06/28)

Kondomisasi memperparah Free Sex dan Penyebaran HIV/AIDS
Kondomisasi (100% kondom) sebagai salah satu butir dari strategi nasional tersebut yang telah ditetapkan sejak tahun 1994 hingga sekarang 2012 Kampanye pengunaan kondom awalnya dipopulerkan melalui kampanye ABCD. ABCD, yaitu A:abstinentia; B:be faithful; C:condom dan D:no Drug.
Saat ini kampanye penggunaan kondom semakin gencar dilakukan melalui berbagai media, seperti buklet-buklet,melalui station TV nasional, seminar-seminar, penyebaran pamflet-pamflet dan stiker dengan berbagai macam slogan yang mendorong penggunaan kondom untuk ‘safe sex’. Kampanye kondom tak jarang dilakukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis di tengah-tengah masyarakat seperti mall-mall dan supermarket. Kampanye tentang kondom juga telah masuk ke beberapa perguruan tinggi, sekolah-sekolah bahkan meskipun mengundang banyak penolakan terbyta juga telah diluncurkan program ATM (Anjungan Tunai Mandiri) kondom, tahub 2005 saja telah ada 6 lokasi ATM kondom di Jakarta yaitu di BKKBN pusat, RSPAD Gatot Subroto, Mabes TNI AD, poliklinik Mabes Polri, Dipdokkes polda Metro Jaya, dan klinik Pasar Baru.
Namun kenyataannya kondomisasi ini tidak terbukti mampu mencegah freesex maupun penyebaran HIV/AIDS. Di saat budaya kebebasan seks tumbuh subur, ketaqwaan yang kian tipis (bahkan mungkin tidak ada), kultur yang kian individualistis, kontrol masyarakat semakin lemah, kemiskinan yang kian menghimpit masyarakat dan maraknya industri prostitusi, kondomisasi jelas akan membuat masyarakat semakin berani melakukan perzinahan apalagi dengan adanya rasa aman semu yang ditanamkan dengan menggunakan kondom. Mengapa bersifat semu? Karena selain seks bebas akan tetap dimurkai Allah swt meskipun menggunakan kondom, ternyata kondom sendiri terbukti tidak mampu mencegah transmisi HIV. Hal ini karena kondom terbuat dari bahan dasar latex (karet), yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berarti mempunyai serat dan berpori-pori. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70 mikron,26 yaitu 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1, yang hanya berdiameter 0,1 mikron.27 Selain itu para pemakai kondom semakin mudah terinfeksi atau menularkan karena selama proses pembuatan kondom terbentuk lubang-lubang. Terlebih lagi kondom sensitif terhadap suhu panas dan dingin,28 sehingga 36-38% sebenarnya tidak dapat digunakan.29 Dengan demikian, alih-alih sebagai pencegah, kondom justru mempercepat penyebaran HIV/AIDS. Hal ini terbukti adanya peningkatan laju infeksi sehubungan dengan penggunaan kondom 13-27% lebih.
Di AS sendiri, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982 bahkan terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip oleh Hawari, D (2006) dari pernyataan H. Jaffe (1995), dari Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (US:CDC:United State Center of Diseases Control). Evaluasi yang dilakukan pada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS menjadi peringkat no 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dan kanker. Selain itu, kondom memang dirancang hanya untuk mencegah kehamilan, itupun dengan tingkat kegagalan mencapai 20%.25
Selain kondom untuk pria, saat ini di Indonesia juga dipopulerkan kondom perempuan.31,32 Ada yang berupa diafragma, yaitu kantong plastik berbentuk tabung yang dimasukkan ke dalam vagina. Diakui, kondom ini berisiko tinggi gagal mencegah kehamilan,33 apalagi untuk mencegah penularan HIV. Adapun kondom perempuan yang berupa hidrojel, selain masih diragukan keampuhannya mencegah penularan HIV, juga berpotensi menimbulkan berbagai hal yang mempermudah penularan HIV, seperti peradangan.
Mencermati uraian di atas, jelaslah bahwa kondomisasi, apapun alasannya, sama saja dengan menfasilitasi seks bebas yang merupakan sarana penularan utama HIV/AIDS. Dan HIV/AIDS jelas-jelas membahayakan kehidupan. Sehingga, tidak heran setelah program kondomisasi dijalankan kasus HIV/AIDS justru semakin meningkat pesat. Dengan demikian, kondomisasi sama saja dengan penghancuran terselubung umat manusia. Masihkah penting kondomisasi digalakkan? Atau sebaiknya harus diputus total ?

Islam Memberi Solusi

Islam sebagai agama yang sempurna, yang dengan penerapan aturannya akan membawa maslahat dan rahmat bagi seluruh umat manusia baik muslim maupun non muslim. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam Al Qur’an : Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad ) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam.” Allah Swt yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Benar dan tidak mempunyai kepentingan terhadap manusia,  tentu menciptakan peraturan-peraturan bagi manusia demi kepentingan (kemaslahatan) manusia.
a) Solusi Preventif
Transmisi utama (media penularan yang utama) penyakit HIV/AIDS adalah seks bebas. Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas tersebut. Hal ini meliputi media-media yang merangsang (pornografi-pornoaksi), tempat-tempat prostitusi, club-club malam, tempat maksiat dan pelaku maksiat.
1. Islam telah mengharamkan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berkholwat (berduaan/pacaran). Sabda Rasulullah Saw: ‘Laa yakhluwanna rojulun bi imroatin Fa inna tsalisuha syaithan’ artinya: “Jangan sekali-kali seorang lelaki dengan perempuan menyepi (bukan muhrim) karena sesungguhnya syaithan ada sebagai pihak ketiga”. (HR Baihaqy)
2. Islam mengharamkan perzinahan dan segala yang terkait dengannya. Allah Swt berfirman:“Janganlah kalian mendekati zina karena sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan” (QS al Isra’[17]:32)
3. Islam mengharamkan perilaku seks menyimpang, antara lain homoseks (laki-laki dengan laki-laki) dan lesbian (perempuan dengan perempuan ). Firman Allah Swt dalam surat al A’raf ayat 80-81 : “ Dan (kami juga telah mengutus) Luth ( kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka : Mengapa kamu mengerjakan perbuatan kotor itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun manusia (didunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu ( kepada mereka ), bukan kepada wanita, Bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.( TQS. Al A’raf : 80-81)
4. Islam melarang pria-wanita melakukan perbuatan-perbuatan yang membahayakan akhlak dan merusak masyarakat, termasuk pornografi dan pornoaksi. Islam melarang seorang pria dan wanita melakukan kegiatan dan pekerjaan yang menonjolkan sensualitasnya. 5. Islam mengharamkan khamr dan seluruh benda yang memabukkan serta mengharamkan narkoba. Sabda Rasulullah Saw :“Kullu muskirin haraamun” artinya : “Setiap yang menghilangkan akal itu adalah haram (HR. Bukhori Muslim) “Laa dharaara wa la dhiraara” artinya : ”Tidak boleh menimpakan bahaya pada diri sendiri dan kepada orang lain.” (HR. Ibnu Majah)
Narkoba termasuk sesuatu yang dapat menghilangkan akal dan menjadi pintu gerbang dari segala kemaksiatan termasuk seks bebas. Sementara seks bebas inilah media utama penyebab virus HIV/AIDS .
6. Amar ma’ruf nahi munkar yang wajib dilakukan oleh individu dan masyarakat.
7. Tugas Negara memberi sangsi tegas bagi pelaku mendekati zina.. Semua fasilitator seks bebas yaitu pemilik media porno, pelaku porno, distributor, pemilik tempat-tempat maksiat, germo, mucikari, backing baik oknum aparat atau bukan, semuanya diberi sangsi yang tegas dan dibubarkan.
0 komentar

Surat Imam Ghozali

Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira didalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf.

Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: "Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu."

Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.

Wahai anak! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, "Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata".

Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.
Rabu, 20 Juni 2012 0 komentar

Optimalisasi peran ibu dalam mencetak generasi peradaban


Juni ini kita memperingati hari keluarga nasional. Banyak hal yang bias dilakukan dan di semarakkan di bulan  ini. Tapi saya ingin membicarakan tentang satu sosok yang di hari apapun, minggu apapun, bulan apapun dan di tahun apapun dia akan selalu ada dan dihormati dalam keluarganya. Siapakah itu, ia adalah ibu. Ditangan ibu  terletak bangkit dan tidaknya sebuah bangsa, di tangannya pula akan tergambar  seperti apa pemimpin masa depan bangsa ini. Maka, bukan suatu yang terlalu berlebihan jika kita harus memberikan porsi yang lebih pada sosok seorang ibu.

Tantangan Bagi Seorang Ibu
Ketika berbicara fakta. Sosok ibu sangat jauh dari gambaran idealis yang diharapkan. Diberbagai media massa banyak kita baca sosok ibu yang tega membunuh anaknya, menganiaya hingga anak cedera dimana-mana, menjual bayinya, memberikannya pada pelacur/gigolo, memperkerjakan anak dibatas kemampuannya tanpa memberikan haknya secara layak.  Maka, bagaimana mungkin seorang ibu akan bisa mencetak generasi emas peradaban, jika sedikit sekali seorang ibu yang layak menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Bagaimana mungkin pula akan tercipta genrasi yang bijak dalam menghadapi hidup, jika sosok ibu yang diharapkan ada di sampingnya selalu sibuk dengan urusan kantor dan pekerjaan, bagaimana mungkin seorang ibu akan bisa mencetak sosok-sosok yang tangguh, jika hari-hari seorang ibu harus berkutat dengan teman kerja dan mesin-mesin pabrik daripada dengan suami dan anak-anaknya . Sungguh dilematik jika kemudian kita memberikan harapan bahkan menjunjung tinggi kehormatan ibu sebagai pencetak generasi andalan ini, jika seorang ibu lebih memilih dirinya disibukkan hanya dengan hal-hal yang hanya menunjang ekonomi keluarga, atau sekedar existensi diri dan pengakuan masyrakat saja. Sedangkan anak dan suami yang menjadi amanah utamanya terabaikan.
Berikut ini beberapa tantangan ibu dalam menjalankan perannya :
1.       Aspek internal
a.       Ketidakfahaman ibu dalam memahami konsep tarbiyatul aulad
b.      Ketidakcakapan ibu dalam menguasai teknis yang efektif dan efisien dalam mendidik anak
2.       Aspek Eksternal
a.        Gerusan arus kapitalisme-liberalisme
Memaksa sosok ibu tuk bekerja di luar rumah, hingga mengabaikan perannya demi mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi ketika suami sudah berusaha mencari kerja tetap tidak ada lowongan kerja
b.        Ketidak singkronan antara pendidik dan konsep yang di ajarkan

Optimalisasi  Peran Ibu
Mengoptimalisasikan peran ibu bukanlah sesuatu yang mudah dan dianggap remeh. Meski banyak upaya utnuk mempermudah ibu bekerja mengontrol anaknya dengan program day-care di tiap-tiap pabrik, secara sekilas memang lebih baik daripada tidak sama sekali. Tapi akan sangat baik jika ibu memaximalkan diri mengupgrade diri, sekaligus mendidik dan mendapingi anak-anaknya. Sebuah aktivitas yang dianggap remeh dan rendah tapi sangat penting esensinya untuk masa depan sebuah peradaban.
Beberapa hal yang bisa dilakukan ibu untuk bias mengoptimalisasikan perannya, an :
1.       Menyadari peran strategis ibu
Kesadaran akan pentingnya menjadi seorang ibu sebagai bagian dari perintah yang diwajibkan oleh Allah SWT akan berdampak sangat signifikan terhadap prilaku ibu dalam mendidik anak-anaknya. Ibu akan berusaha terus menerus meningkatkan pemahaman islamnya dalam mendidik anak-anaknya. Selain sebagai ibu, ia juga sebagai bagian masyarakat yang harus peduli dengan lingkungan tempat anak-anaknya tumbuh danberkembang, sehingga ibu akan berperan aktif beramar ma’ruf nahi mungkar terhadap sesamanya.
2.       Memahami konsep tarbiyatul aulad
Ibu memahami bahwa tujuan pendidikan yang diberikan adalah untuk membentuk seorang anak memeiliki kepribadian Islam, kokoh dalam keimanan, kuat dalam menghadapi hidup. Dimana hal yang paling utama diajarkan adalah konsep keimanan, baru kemudian amal-amal praktis dalam beribadah hingga anak menyongsong masa balighnya siap dengan berbagai ta’lif syara’ yang di bebankan. Baru kemudian pendidikan atau skill untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
3.       Memahami teknis pelaksanaan konsep
Dalam hal ini ibu harus memahami betul bagaimana keunikan masing-masing anaknya dengan berbagai karakter yang di anaugerahkan Allah kepada masing-masing anak yang berbeda-beda.

Untuk mengoptimalkan diri dalam mencetak generasi peradaban memang banyak tantangannya, dan tantangan terbesar  adalah tantangan sistemik yang memaksa banyak ibu untuk keluar dari rumahnya. Padahal ibu bukanlah sosok yang harus diperas keringatnya menghasilkan pundi-pundi uang untuk keluarganya. Ia adalah sosok tempat anak berbagi, bercerita dan mengadu kala ditimpa masalah dan kegundahan. Tempat suami bersandar ketika kelelahan mencari nafkah kian menggunung. Bayangkan ketika semua itu tidak ada digantikan oleh pembantu dan baby sister. Maka keluarga dan anak akan menajdi korbannya. Seberapa banyak keluarga-keluarga yang tertipa musibah perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, anak-anak terlibat narkoba dan  tindakan kriminalitas. Semua tetap kembali pada peran ibu.
Rabu, 13 Juni 2012 0 komentar

Beyond The Inspiration


Seandainya dunia ini adalah sebuah sinetron maka mungkin tempat syuting yang paling banyak ada di timur tengah. Banyak kejadian-kejadian besar terjadi disana. Episode-episode besar peradaban dunia silih berganti terjadi di sana. Episode Persia juga Episode Romawi, yang menguasai timur tengah dalam lintasan abad.
Dunia pun mengenal Episode Islam. Salah satu masa paling agung dalam sejarah dunia. Islam hadir di Madinah dan meluas dalam ratusan tahun dan berhasil menutup wilayah kekuasaan Romawi dan Persia, seluruhnya. Peradaban ini juga menunjukkan keagungannya dalam berbagai bidang kehidupan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sehingga ketika kita bicara kata “Islam” pada masa itu, akan hadir pujian-pujian, “keren, cakep, canggih”, dan segudang pujian lain.
Namun, itu dulu. Bagaimana dengan potret islam dan kaum muslim pada zaman ini. Apa yang terbayang seandainya orang berkata “Islam”? Teroris? Kemiskinan? Korupsi? Maling sendal?
Maka inilah yang menjadi pertanyaan besar kita. Kenapa di satu zaman Islam bisa menunjukkan kewibawaannya. Dan kenapa di zaman yang lain “Islam” menunjukkan kehinaan dan keidiotan pemeluknya? Why? Kenapa? Bukankah Qur’an kita sama dengan Quran pada zaman dahulu? Bukankah hadits nabi juga sama? Bukankah saat ini kita lebih mudah mengakses keduanya? Bukankah hari ini kita sangat mudah mencari kitab-kitab ulama, dan guru-guru yang alim terserak?
Inilah yang akan dijawab oleh Ustadz Felix Siauw. Seorang muallaf beribu inspirasi, dalam materi training Bedah Buku Beyond The Inspiration. Totally Inspiring!! Segera beli bukunya!
0 komentar

Menguasai Keahlian dengan Pembiasaan (Habits)

Seringkali kita menemui orang yang kita anggap istimewa, karena ia mampu melakukan sesuatu yang luar biasa, yang tidak banyak dikuasai oleh orang lainnya. Kita takjub melihat seseorang yang fasih dalam bahasa arab dalam usia muda, walaupun dia tidak lahir di tanah arab. Kita terpesona tatkala menyaksikan anak berusia 15 tahun dan hafalan 30 juz nya. Kita kagum saat melihat seseorang berumur masih 20-an namun telah menulis lebih dari 8 buku yang semuanya bermutu dan berisi.
Lalu kita bertanya-tanya, apakah bakat-bakat semacam itu adalah takdir dari Allah, yang hanya diberikan-Nya pada orang-orang khusus? Apakah memang sudah takdirnya seperti itu? Dan biasanya pasangan pertanyaan ini adalah legitimasi bahwa kita memang tak mampu melakukan demikian karena tak berbakat. Lalu menyerah dan menerima diri apa adanya, jauh dari mampu.
Sebagai respon atas hal ini, muncul kemudian training motivasi yang menjamur bak musim hujan. Training ini lalu membahas tentang “Why?”. Merubah mindset seseorang dan berusaha menanamkan keyakinan pada setiap orang bahwa mereka pasti bisa menguasai apapun.
Namun, motivasi ternyata gagal pula menciptakan kelanggengan dalam menguasai suatu keahlian. Panas semangat yang membakar ternyata hanya bertahan satu-dua hari, belum keahlian dikuasai, kebosanan sudah menanti.
Sebenarnya, rahasia dari menguasai keahlian apapun bukan terletak pada motivasi, karena motivasi hanya kunci pembuka awalnya saja, tapi ibu dari segala keahlian adalah pengulangan (repetisi) dan ayahnya adalah latihan (practice). Bila seseorang banyak melatih dan mengulang, terpaksa ataupun sukarela, dia pasti akan menguasai keahlian tertentu. Inilah namanya pembentukan kebiasaan (habits)
Dalam kenyataan sehari-hari, menguasai suatu keahlian secara permanen lebih tergantung dari habits dibandingkan motivasi. Misalnya, setiap pengemban dakwah tentulah ingin menguasai bahasa Arab, dan saya pikir motivasi untuk itu tak kurang. Namun mengapa sedikit yang menguasainya? Karena tidak terbiasa, tepat sekali. Sebaliknya, seorang bocah 2 tahun yang tinggal di Arab tidak punya motivasi samasekali untuk menguasai bahasa Arab, namun dia menguasainya. Tanpa disadarinya.
Coba perhatikan sekali lagi, ada orang yang sangat ingin menguasai bahasa arab namun tidak dapat menguasai keahlian itu, namun ada orang yang biasa-biasa saja, lalu menguasainya.
Nyata disitu bahwa suatu keahlianlebih banyak dipengaruhi oleh practice (latihan) dan repetition (pengulangan), ayah dan ibunya segala jenis keahlian.
Sama seperti kasus membaca SMS diatas, ketika kita telah terbiasa (berlatih dan berulang-ulang) membaca SMS, maka memahami teks SMS yang disingkat-singkat menjadi sesuatu yang otomatis kita lakukan, tanpa perlu berpikir, semuanya terjadi otomatis, autopilot.
Jadi pembiasaan pada intinya adalah menjadikan suatu hal yang tadinya dilakukan secara sadar dan diupayakan menjadi otomatis dan tanpa upaya, melalui latihan dan pengulangan secara terus menerus.
Bayangkan nikmatnya melakukan kebaikan-kebaikan secara otomatis. Bayangkan nikmatnya membaca kitab berbahasa arab gundul sama otomatisnya seperti membaca SMS yang disingkat. Bayangkan nikmatnya berdakwah yang materinya mengalir secara otomatis. Bayangkan menulis tanpa upaya dan otomatis dilakukan. Itulah hasil daripada pembiasaan (habits).
Bayangkan Anda ingin menembus hutan perawan. Pertama-tama harus ada upaya yang sangat luar biasa untuk membabat hutan, memotong pohon dan semak, menyeruak rumput dan menebas penghalang untuk meniti setapak jalan. Kedua kalinya Anda melewati jalan itu, tentu tak sesulit awalnya. Keesokan harinya anda mungkin melapisi jalan tanah dengan batu sehingga lebih nyaman dilewati. Dan satu hari jalan itu mungkin diaspal hinggal lebih cepat dilewati. Begitulah proses pembentukan keahlian melalui pembiasaan.
Karena itulah, Al-Qur’an pun telah memuat firman Allah yang membukakan kepada kita kunci daripada pengajaran, yaitu pengulangan (repetisi),
Dan demikianlah Kami menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al Quran itu menimbulkan pengajaran bagi mereka (TQS Thahaa [20]: 113)
Membentuk habits yang baik memang sulit pada awalnya, namun seketika habits itu sudah terbentuk dengan ajeg, maka sulit pula untuk menghentikan habits baik itu. Sama dengan habits buruk yang sulit pula menghentikannya apabila sudah ajeg. Bedanya, habits baik sulit dibentu, namun akan memudahkan kita di sisa hidup kita. Habits buruk mudah dibentuk namun menyusahkan kita di sisa hidup kita.
Sayangnya, tidak banyak pengemban dakwah yang menyengaja pembentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik. Dan lebih sayangnya lagi, manusia ibarat sebidang tanah kosong, yang apabila kita tidak menanamnya dengan sesuatu yang baik; maka secara otomatis tanaman yang tumbuh adalah yang tidak baik. Bila kita tidak menyengaja membentuk habits yang baik, bukan berarti tubuh kita tidak memiliki habits, tapi mungkin penuh dengan habits yang buruk. Keburukan yang otomatis terjadi, seperti malas, enggan, futur, gugup saat menyampaikan Islam, tidak runut dalam pembahasan dan lainnya.
Jadi hanya satu sebab ketika kita belum menguasai sesuatu hal yang benar-benar kita inginkan: “Kita belum cukup banyak mengulang dan melatihnya, baik terpaksa ataupun sukarela”. Bukan masalah bakat, kurang motivasi atau apapun yang selama ini kita pikirkan.
Bicara tentang berpikir, binatang tidak memiliki akal, namun mereka bisa menguasai keahlian yang bahkan manusia merasa aneh menyaksikannya. Kita pernah melihat burung berhitung matematika di sirkus, monyet melakukan tendangan putar sempurna taekwondo, atau lumba-lumba yang melompati gelang api. Semua itu mereka lakukan karena mereka tidak banyak pikir, hanya melakukan dan melakukan. Terus berlatih dan mengulangi.
Mungkin itulah kelemahan kita selama ini, yang membuat kita miskin keahlian apapun. Karena kita terlalu banyak membahas motivasi tapi kurang aksi. Banyak pikir cemerlang tapi tak  berlatih mengulang. Logikanya, bila binatang yang tak memiliki akal saja bisa, seharusnya manusia yang punya akal lebih bisa.
Mungkin pula lebih tepat apabila ketika ingin menguasai satu keahlian, tak perlu banyak berpikir dan motivasi, lakukan saja. Semakin sering kita melakukan, maka semakin sering pula latihan dan pengulangannya. Maka kita pasti akan menguasai keahlian apapun yang kita inginkan.
Penelitian mengatakan, bahwa 30 hari melatih suatu hal akan membuat kebiasaan baru terbentuk. Contohlah kita ingin membentuk habits membaca, maka bacalah buku setiap hari pada waktu yang sama, ba’da shubuh 1/2 jam, setiap hari. Maka setelah 30 hari habits baru itu akan muncul, walau masih lemah. Semakin lama kita melaksanakannya, semakin habits itu berakar. Habits dulu baru hebats!
Terakhir, mari kita dengarkan ungkapan Imam Syafi’i “Wahai saudaraku, kalian tidak akan dapat menguasai ilmu kecuali dengan 6 syarat yang akan saya sampaikan: dengan kecerdasan, bersemangat, kesungguhan, dengan memiliki bekal (investasi), bersama pembimbing, serta waktu yang lama!

@felixsiauw – islamic inspirator, penulis
 
;